Akhir-akhir ini dapat kita saksikan betapa hiruk pikuk perpolitikan di Indonesia mempertontonkan perilaku individu maupun golongan yang tidak mencerminkan perilaku yang dapat dicontoh oleh generasi muda, dalam arti generasi yang saat ini masih menempuh pendidikan pada level sekolah menengah, perbuatan yang demikian dampaknya sangat luas dan cepat menyebar di kalangan masyarakat luas. Salahsatu contoh nyata yang dapat kita saksikan melalui media elektronik ( TV ) adalah seorang anggota DPR yang kita hormati menonton film biru ( Blue Film ) saat sidang dimulai, dan ini di-ekspos oleh media, sehingga sampai pelosok tanah air mengetahui semua. Kita bisa bayangkan, sebagai seorang yang menyandang gelar " Anggota Dewan Yang Terhormat" mempertontonkan perilaku yang demikian ? Sedangkan gaji yang mereka terima berasal dari rakyat. Lantas pertanyaannya adalah, mau dibawa kemana negara ini ? Bagi rakyat cara berpikirnya sangat sederhana, orang yang terpilih sebagai anggota DPR bukan sembarang orang, artinya adalah orang yang mempunyai banyak kelebihan dibanding orang lain, sehingga mereka layak untuk diberi label "Anggota Dewan Yang Terhormat ". Kita semua berharap perilaku yang tidak pantas sebagai orang yang dihormati ini tidak sampai dicontoh oleh siswa / siswi, khususnya di wilayah DKI Jakarta, yang notabene merupakan salahsatu barometer peradaban Indonesia. Pertanyaannya adalah, kalau orang yang menjadi representasi bangsa saja perilakunya seperti itu, lantas bagaimana untuk generasi penerus bangsa ini ke depan ? kita menyadari bahwa suatu peristiwa apapun kalau sudah ditayangkan di TV dampaknya sangat cepat sekali tersebar ke seluruh pelosok tanah air. Masalahnya adalah, bahwa bagi masyarakat Indonesia TV merupakan salahsatu media yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, mulai presiden sampai gelandangan yang tempat tinggalnya di bawah kolong jembatan. Itulah sebabnya bagi pejabat harus hati-hati memberikan pernyataan di depan publik atau mengakses berita dari internet, salah sedikit akan berakibat fatal. Kita memaklumi, bahwa cepatnya perkembangan informasi menuntut adanya kesiapan mental dan spiritual masyarakat sebagai user-nya, sedangkan masyarakat Indonesia secara keseluruhan kelihatannya masih belum siap menerima kenyataan ini, akhirnya dapat kita saksikan banyak masalah-masalah yang muncul sebagai akibat norak- nya menggunakan fasilitas yang tersedia dalam sistem teknologi informasi tersebut. Sebagai contoh adalah face book, HP, Internet dan sebagainya. Di satu sisi sarana tersebut merupakan salaahsatu media yang diperlukaan dalam kaitannya aktivitas keseharian yang mengacu pada efisiensi waktu, namun pada sisi yang lain dampaknya kurang dapat mengarah pada hal-hal yang bersifat negatif, baik untuk tataran anak-anak maupun orang dewasa, bahkan dapat membahayakan keselamatan jiwa orang lain. Hal ini dapat kita saksikan ketika pemakai HP sambil berkendara tanpa mempedulikan pengendara yang ada di sekitarnya, bahkan sampai kepolisian-pun mengeluarkan perundangan yang mengatur itu. Dampak yang lebih negatif lagi adalah kian meningkatnya kriminalitas di ibukota sebagai akibat tayangan dari multimedia, baik internet maupun TV yang sangat meresahkan masyarakat. Pada dasarnya kita lupa, bahwa sejujurnya sebagaian besar dari kita masih belum siap untuk dihadapkan pada perkembangan teknologi canggih yang ada di sekitar kita dan berlangsung secara terus menerus tidak akan mungkin dapat kita hindarkan. Dunia pendidikan-pun sangat resah dengan perilaku para siswa yang semakin tidak mengenal batas kesopanan, mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Oleh karenanya, maka yang perlu harus kita sikapi adalah ketahanan moralitas dan spiritualitas perlu ditingkatkan, agar mampu menangkal pengaruh negatif sebagai dampak lajunya perkembangan teknologi informasi.
PERAN DEPARTEMEN AGAMA
Dalam segi pendidikan spiritualitas, para siswa mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi tetap diberikan materi pelajaran Pendidikan Agama sesuai dengan yang dianut oleh para siswa itu sendiri, maka hal ini penting artinya untuk menanamkan dan memperkenalkan diri, bahwa manusia pada dasarnya adalah sebagai makhluk Tuhan yang lemah dan saling menergantungkan satu dengan yang lain. Tidak ada manusia yang "super" di dunia ini, kesadaran itu diharapkan tertanam kuat pada diri siswa sampai kapan-pun, sehingga toleransi sesama manusia dengan tanpa melihat latar belakang agama, suku dan ras dapat terjalin secara harmonis. Berkaitan dengan hal terssebut Departemen Agama mempunyai peran penting dalam kaitannya meningkatkan pendidikan spiritualitas bagi para siswa, karena Guru agama di sekolah-sekolah berasal dari pendidikan khusus keagamaan di bawah Departemen Agama. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Prof. DR. Azumardi Azra, MA di Metro TV beberapa hari yang lalu, bahwa pada prinsipnya generasi muda sekarang kurang pemahamannya tentang toleransi beragama & wawasan kebangsaannya, sehingga mudah terbawa oleh aliran sesat yang membahayakan, seperti bom bunuh diri, bom buku, teroris dsb, hal ini terjadi karena minimnya pemahaman tentang keagamaan. Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan peran dari dua depertemen, yakni ( Depdiknas dan Depag) mampu meningkatkan perannya dalam kaitannya menyemaikan kejujuran dan peradaban kepada para siswa melalui pendidikan, bilamana hal ini tidak segera dimulai dari sekarang dikhawatirkan akan sangat membahayakan di kelak kemudian hari dan hal ini sangat bertentangan dengan falsafah kita Pancasila. Kejujuran sudah terabaikan, peradaban telah terkikis, perilaku manusianya sudah terbiasa menabrak rambu-rambu dan nilai luhur para pendiri bangsa, lembaga pendidikan formal semakin tak berdaya lantas ke arah mana perahu besar yang bernama Indonesia ini akan terbawa? entahlah !!! hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa kita serahkan segalanya.
PERAN DEPARTEMEN AGAMA
Dalam segi pendidikan spiritualitas, para siswa mulai dari TK sampai Perguruan Tinggi tetap diberikan materi pelajaran Pendidikan Agama sesuai dengan yang dianut oleh para siswa itu sendiri, maka hal ini penting artinya untuk menanamkan dan memperkenalkan diri, bahwa manusia pada dasarnya adalah sebagai makhluk Tuhan yang lemah dan saling menergantungkan satu dengan yang lain. Tidak ada manusia yang "super" di dunia ini, kesadaran itu diharapkan tertanam kuat pada diri siswa sampai kapan-pun, sehingga toleransi sesama manusia dengan tanpa melihat latar belakang agama, suku dan ras dapat terjalin secara harmonis. Berkaitan dengan hal terssebut Departemen Agama mempunyai peran penting dalam kaitannya meningkatkan pendidikan spiritualitas bagi para siswa, karena Guru agama di sekolah-sekolah berasal dari pendidikan khusus keagamaan di bawah Departemen Agama. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Prof. DR. Azumardi Azra, MA di Metro TV beberapa hari yang lalu, bahwa pada prinsipnya generasi muda sekarang kurang pemahamannya tentang toleransi beragama & wawasan kebangsaannya, sehingga mudah terbawa oleh aliran sesat yang membahayakan, seperti bom bunuh diri, bom buku, teroris dsb, hal ini terjadi karena minimnya pemahaman tentang keagamaan. Sehubungan dengan hal tersebut diharapkan peran dari dua depertemen, yakni ( Depdiknas dan Depag) mampu meningkatkan perannya dalam kaitannya menyemaikan kejujuran dan peradaban kepada para siswa melalui pendidikan, bilamana hal ini tidak segera dimulai dari sekarang dikhawatirkan akan sangat membahayakan di kelak kemudian hari dan hal ini sangat bertentangan dengan falsafah kita Pancasila. Kejujuran sudah terabaikan, peradaban telah terkikis, perilaku manusianya sudah terbiasa menabrak rambu-rambu dan nilai luhur para pendiri bangsa, lembaga pendidikan formal semakin tak berdaya lantas ke arah mana perahu besar yang bernama Indonesia ini akan terbawa? entahlah !!! hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa kita serahkan segalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar